PMII UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Universitas Brawijaya

APAKAH INDONESIA MASIH INDONESIA?

with one comment

Oleh : Y. E. C. Farobi *

Mbah Tarjo seorang pensiunan tentara, telah berumur 81 tahun, dan berprofesi sebagai petugas kebersihan berujar dalm logat jawa yang kental “Wong jowo ora ngerti jowone , tambah aneh-aneh wae lelakune. Saiki akeh wong Jowo kang kepingin dadi wong londo lan kepingin pisan dadi wong arab. Tansah ora karu-karuan ndonyo iki (orang jawa tidak memahami ke-jawa-an nya,semakin aneh-aneh saja perilakunya, sekarang banyak orang jawa yang justru ingin jadi orang barat dan ingin pula menjadi orang arab. Semakin tidak karu-karuan dunia ini)

Kata-kata sang kakek tersebut sungguh mengejutkan penulis, dimana kegelisahan mendalam terhadap kondisi bangsa justru terlontar dari bibir seorang awam yang sudah lemah, renta dan hampir-hampir tidak berdaya. Dia bukan seorang filsuf kondang, dia bukan seorang penyair hebat, bukan pula seorang ilmuwan apalagi politikus, mbah tarjo adalah salah seorang korban dari negara yang salah urus.orang yang dahulu mati-matian membela negara melawan penjajah tapi di masa tuanya semakin di sia-siakan oleh pemerintah. Akan tetapi yang membuat penulis bangga adalah Mbah Tarjo adalah salah satu dari sebagian orang yang memikirkan kondisi bangsa dan negaranya yang hampir kacau balau oleh olah bangsanya sendiri di tengah–tengah himpitan hidup yang dialaminya.

Untaian kata mbah Tarjo diatas sungguh memiliki makna yang sangat dalam, sebutan wong jowo bagi dia, tidak berarti orang atau komunitas yang termasuk suku jawa atau yang berdiam di pulau Jawa saja akan tetapi term tersebut memiliki arti yang sangat luas yaitu seluruh warga negara Indonesia, yang terbagi dalam 652 suku bangsa dan berdiam diseantero nusantara dari ujung sabang sampai merauke.

Entah mengapa mbah Tarjo menggunakan kata wong Jowo untuk menggambarkan bangsa Indonesia bukan wong-wong yang lainnya, yang jelas pernyataan mbah Tarjo memberikan pesan mendalam bahwa telah terjadi suatu ketidakberesan yang dialami bangsa Indonesia. Dekadensi moral yang akut sedang diderita oleh rakyat Indonesia. Memudarnya nilai-nilai kesopanan, kebersamaan, toleransi, saling menghormati, budaya tolong menolong serta gotong royong diantara masyarakat merupakan indikasi tergerusnya moral bangsa ini.

Sebaliknya, kegandrungan perilaku ‘import’ dengan bangga dianut dan diagung-agungkan dengan dalih mengikuti arus modernisasi. Sebagai contoh kaum generasi muda yang ada di desa maupun di kota, pelajar maupun mahasiswa, kaya maupun miskin menjadi pelaku sekaligus korban atas pemahaman modernisasi yang keliru tersebut. Minum keras, narkoba, sex bebas, model pakaian yang seronok, dugem/clubbing telah menjadi sebuah bentuk ‘ibadah’ yang dilakukan oleh sebagian remaja masa kini. Hedonisme telah menjadi pandangan hidup sebagian besar anak muda di negeri ini. Inilah yang disebut oleh mbah Tarjo sebagai sebuah kondisi wong Jowo kang kepingin dadi wong londo itu. Modernisme cenderung ditelan mentah-mentah’ tanpa adanya filter yang mampu memilah mana hal dari luar yang cocok dengan budaya bangsa ini, tetapi justru perilaku kebarat-baratan yang dianut hanya demi mengejar gengsi dan agar tidak disebut ketinggalan zaman.

Disatu sisi kegandrungan anak muda terhadap pemikiran fundamental sebagai sebuah jawaban untuk melakukan perlawanan terhadap masuknya budaya hedonis dan liberal ternyata juga menjadi pemicu memudarnya rasa kebangsaan dikalangan kaum muda. Tidak jarang kaum muda yang sudah terjangkiti virus ‘arabisme’ tidak mau lagi menggali, menghayati, dan mengamalkan apa yang tertuang dalam Pancasila sebagai suatu pandangan hidup yang digali dari nilai-nilai luhur bangsa ini, jangankan mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari, sebatas menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya saja mereka malu-malu bahkan sampai ada yang menutup mulut rapat-rapat apabila lagu wajib itu dinyanyikan. Menurut pemahaman kaum muda yang telah tercekoki pemikiran Islam fundamental Islam yang paling kaffah adalah Islam yang asli dari sononya (baca;Arab), masyarakat Islam di Indonesia yang menganut Islam yang berakulturasi dengan budaya asli atau local bangsa ini harus diarahkan untuk menjadi Islam yang murni menurut versi mereka. kehadiran kelompok muda islam ini seakan-akan mewakili sebuah spirit “Islam baru” yang mencerminkan “totalitas” dan “kesungguhan”, baik dalam tujuan perjuangannya maupun dari segi perilaku politik sosialnya. Dengan kata lain mereka ingin merefleksikan sebuah potret generasi muda Islam yang ideal, sebagai generasi yang sholeh, menjunjung tinggi moralitas Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Betulkah? Wallahu a’lam

Fenomena inilah yang disebut mbah Tarjo sebagai kondisi Akeh wong Jowo kang kepingin dadi dadi wong arab. Mereka (kelompok fundamentalis) tidaklah salah dalam menjalankan ritus-ritus keagamaan sebagai bagian proses pencarian jati diri guna menggguyur dahaga keimanan yang telah lama kering kerontang. Akan tetapi yang patut disesalkan adalah metode yang dilakukannya dalam mewujudkan apa yang dicita-citakannya yang justru berseberangan jauh dari misi da’wah pencerahan yang diusungnya. Klaim kebenaran bahwa akulah yang paling benar dan kamu lah yang salah menyeruak menjadi sebuah term pembelaan yang mengakar kuat. Sikap eksklusif menjadikan mereka kelompok yang paling benar menurut dirinya sendiri, simbolitas semata yang mereka kedepankan. Hal-hal kecil inilah jika dibiarkan akan dapat mengancam keutuhan dan kebersmaan, dalam lingkup nasional dapat menyebabkan munculnya disintegrasi bangsa serta konflik-konflik yang menyertainya dan semakin runtuhnya ideology bangsa.

Sangat miris sekali mamang melihat situasi dan kondisi bangsa Indonesia akhir-akhir ini, khususnya kalangan generasi muda. Terlebih mahasiswa telah menjadi objek dan kampus menjadi lahan basah pertarungan ideologi ‘import’ (liberalisme dan fundamentalisme). Mahasiswa yang diharapkan mampu menjadi agen perubahan, kelompok kelas menegah yang menjadi agen pencerah peradaban justru harus diubah tingkah polahnya. Faktanya mereka telah menjadi salesmen dari kepentingan orang-orang luar. Kita melihat, mode-mode pakaian yang yang dikenakan justru mnandakan sebagai etalase berjalan, di sisi lain pembicaraan-pembicaraan seringkali terdengar istilah kearab-araban Alfin Tofler menyebut gejala ini dengan cultural shock, sebuah keterkejutan budaya yang tanpa disadari menyeretnya ke dalam arus kebudayaan baru yang tidak dikenal sebelumnya.

Lantas apa yang harus diperbuat? Tentunya kita harus berpikir sendiri

Written by pmiiub

Mei 31, 2007 pada 4:34 am

Ditulis dalam Buletin

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. manusia itu tempatnya salah dan lupa….
    berfikir sendiri kah jawabannya?
    apakah manusia bisa berfikir sendiri tanpa siapapun dan informasi apapun untuk menemukan jawaban dari pertanyaan diatas?

    kalau qt melihat lebih obyektif…..dan rasional….
    kita mau memilih yang mana?
    liberalisme atau fundamentalisme?

    sudah cukup liberalisme, sosialisme dan nasionalisme kebangsaan mendapat kesempatan…..

    icha

    Maret 1, 2008 at 9:06 am


Tinggalkan Balasan